Itu Aku. - YASINTACIN

26 Februari 2013

Itu Aku.


Cinta. Sebuah kata sederhana yang memiliki banyak arti. Entah itu menyenangkan, indah, menyesakkan, bahkan menyakitkan.
Hidupku lebih berwarna, saat kulihat senyummu. Hidupku terasa berarti, karena kau selalu ada untukku, untuk memotivasiku meskipun dengan kata-kata sederhana dan sinis sekalipun. Candamu, tawamu, mengisi setiap hari-hariku yang sepi.....
Pagi ini sungguh cerah, secerah hati Sita. Cewek lugu, cuek, jutek dan agak pemalas itu. Hari ini nggak seperti biasanya, Sita sangat antusias untuk sekolah. Biasanya sih males-malesan dan sengaja dilama-lamain biar telat. Males upacara. Yap, salah satu yang menyebabkan hari senin begitu dibencinya oleh berjuta-juta umat manusia. Apalagi dengan macetnya. Kayaknya semua orang di kota Bandung ini memiliki 1 pemikiran yang sama. Sampe-sampe mau berangkat ngantor, sekolah, keluar rumah pun samaan. Bikin jalanan padet aja kan.
Sita lari terburu-buru, keluar dari kamarnya dan langsung kelabakan nyari kunci motor.
“Ma, aku pergi sekarang ya. Takut macet nih, ntar kesiangan.”
“Hey, sarapan dulu! Biasanya juga kamu berangkat setengah 7 dari rumah sengaja telat. Kok tumben pingin nggak telat?”
“Nanti aja dikantin ya Ma. Apa jadinya dunia ini kalau generasi muda kayak Sita ke sekolah aja telat mulu.”
“Yasudah deh, hati-hati ya.” Jawab Mama Sita sambil geleng-geleng melihat keanehan tingkah anaknya sendiri.
“Oke Ma.” Sita segera berangkat.

Dijalan, Sita senyam-senyum sendiri sambil nyetir. Entah apa yang telah merasuki pikirannya. Tidak biasanya.
...............................................................................................................
Sesampainya disekolah, dia celingukan mencari teman-temannya. Maksudnya sih modus, liat gebetannya. Makhluk terkece disekolahnya yang sudah merasuki pikirannya belakangan ini. Bagaimana tidak, ketampanannya serta kewibawaannya membuat dia sungguh sungguh terpesona. Cinta pada pandangan ke.........
Pagi ini sia-sia. Dia sengaja datang pagi-pagi ke sekolah hanya untuk melihat sosok lelaki tampan yang Ia idam-idamkan semenjak 2 hari yang lalu. Tetapi kenyataannya, sepasang mata yang pernah bertemu disebuah kantin lusuh itu tak Ia temukan di pagi ini.
Sedih. Memang. Ia sudah menyia-nyiakan 30menit untuk tidur lagi setelah terbangun dari mimpi indahnya. Ya, tentu saja lelaki itu. Ia memikirkannya tanpa henti. Membayangkannya. Dan terbawa ke mimpi.

Bel pun berbunyi. Sita tak mau beranjak dari kursi reot di kantin itu.
“Sit, nggak baris? Buruan, ntar dikira telat lagi.” Sapa Irman.
“Kalem, gue lagi..............”
“Ngapain? Pagi-pagi udah modus aja lo. Haha. Yuk buruan.”
“Iye iye.” Jawab Sita dengan agak kesal.
Bagaimana dia tidak mau beranjak dari kantin itu. Kelas seseorang yang Ia idam-idamkan jelas jelas ada didepan kantin itu.
Upacara pun dimulai. Semua peserta mengikutinya dengan khidmat sehingga hening dan sepi yang terasa. (Lo pasti lebih tau kenyataannya kayak gimana).
Upacara pun selesai. Sita masih penasaran dengan sosok itu. Lelaki tampan dan keren sekali (menurutnya). Ia tak menemukannya pagi itu.
Sita pun segera ke kelasnya dengan perasaan tak karuan, lunglai dan seketika letih. (Suer, ini lebay banget).
“Sit, lo kenapa? Sakit?” Tanya Wia teman sebangkunya.
“Nggak kok, galau aja.” Jawab Sita lempeng.
“Galau? Lo kan......”
“Jomblo? Iye gue jomblo mau apa lo?” Sita memotong pembicaraan karena perasaannya udah mulai gak enak.
“Sorry, gue gak bermaksud bilang itu kok. Hehe. Kenapa? Cerita dong!” Wia ngeles.
“Usaha gue sia-sia Wi, gue bela-belain nih dateng pagi-pagi biar bisa liat wajah tampan gebetan gue. Kalau pagi pasti kan masih fresh gitu. Tapi gue gak ketemu. Sedih deh gue.” Sita menunduk.
“Yaelah gitu doang. Emang siapa sih? Sampe segitunya lo?” wia penasaran.
“Ada deh” Jawab Sita dengan lemas.
“Yah lo mah gitu...” Wia kecewa.

Bel istirahat pun berbunyi. Wajah Sita yang tampak lesu kini berbinar. Ia buru-buru mengajak Wia ke kantin untuk mengisi perutnya yang masih kosong akibat belum sarapan. Mmmmm.... sebenernya sih ketemu gebetan doang juga bisa bikin kenyang bagi Sita.
Ia celingukan. Tiba-tiba sesosok pangeran datang. Tampan. Memang. Tatapannya tajam tertuju kepada seorang penjual mie ayam. “Mas, mie ayam 1 ya. Kayak biasa, jangan pake ayam.” Kata cowok itu dengan gaya bicaranya yang begitu menyejukkan hati.
Mata Sita terbelalak. “Wi, beli mie ayam yuk! Gue laper nih.” Sita kegirangan.
“Lo kenapa? Lupa ya? Lo kan nggak suka mie ayam Sit.” Jawab Wia dengan entengnya.
“Udah, ayo!” Sita nggak sabaran.
Sita segera duduk di sebuah meja mas mas mie ayam itu. “Wi, lo gue traktir mie ayam deh. Mas 1 ya! Lama-lamain aja mas, kita penyabar kok.” Sita menyambar.
“Sit, lo kenapa? Lagi dapet rezeki ya? Wah tengkyu yaa. Tapi kok dilama-lamain sih?” Wia kebingungan. “Udah Lo diem aja deh. Bantuin gue kali ini ya.” Jawab sita dengan muka sok serius.
Wia diem aja. Nurutin apa kata Sita. Dia gak ngerti, makhluk apa yang merasukinya sampe-sampe temannya itu aneh banget.
Sita senyam senyum sendiri. Merhatiin gebetannya itu yang ternyata emang lagi beli mie ayam juga.
Seketika pikiran Sita melayang. Ia sungguh sungguh gila kali ini.
“Mas, lama banget sih!” Wia kesal.
“Loh, neng kan sabaran katanya. Yasudah saya layanin yang lain dulu biar cepet neng.”
Wia kembali terdiam. Tiba-tiba teman sebangkunya itu pergi begitu saja. Ia mengikuti gebetannya. Kali ini urat malu Sita bener-bener putus.
“Eh, tunggu!” Sita menyapa.
“Eh ya, siapa ya? Ada apa?” Jawab lelaki itu dengan ramah dan agak kebingungan.
Sita memperhatikan plat nama lelaki itu. “Oh, Gian.” Jawabnya dalam hati. Sita cekikikan sendiri.
“Ngga kok, gue kira temen sekelas gue hehe.” Sita ngeles.
“Oh yaudah. Gue duluan ya.” Jawabnya dengan sopan.
“Yaampun........” Sita kegirangan.
“Wi, yuk kita ke kelas. Takut keburu bel nih. Sayang banget ketinggalan pelajaran 5 menit juga!” Sita salting.
“Lo kenapasih? Tadi mau nraktir. Ini mienya baru juga muncul dihadapan gue!”
“Yaudah gue duluan ya!” jawabnya dengan enteng.
“Sitaaaa!!!” Wia benar-benar kesal.

Semenjak hari itu, hidup Sita berubah. Saat Ia kenal Gian. Ia berubah menjadi lebih rajin, giat dan aktif di organisasi sekolah. Tak biasanya.
Sita sudah tidak pernah terlambat sekolah lagi. Nilainya pun naik. Apalagi semester 1 ini dia ranking 10 besar. Akibat usahanya mati-matian buat eksis di mading sekolah doang. Semua karena Gian. Gian pun anak yang cukup cerdas. Dan disekolah ini anak yang ranking atau berprestasi namanya selalu dicantumkan di mading.
Dia hanya ingin jadi sesuatu yang Gian lihat. Meskipun mungkin Gian tak melihatnya.
Dia hanya ingin menjadi yang paling terbaik dari yang terbaik. Meskipun Gian tak memperdulikannya sekalipun. Gian benar-benar membuat hidupnya berubah. Tanpa Gian tahu apa sebabnya.
Sita begitu menginginkan Gian. Tak disangka, hanya dengan beberapa minggu pedekate akhirnya mereka pun jadian.
Gian mengungkapkan perasaannya. Hanya dengan dekat beberapa minggu saja, Sita membuatnya sungguh tertarik. Hari demi hari berlalu. Sita mulai menyadari, bahwa perasaannya pada Gian itu hanya sebatas ‘suka’ saja. Suka pada pandangan pertama, pada fisiknya yang hanya membuat perasaannya tak karuan karena memikirkannya tanpa henti. Tanpa memikirkan apakah ada rasa sayang atau cinta. Ia hanya memikirkan untuk mendapatkannya saja. Lama-lama Sita pun merasa bosan. Ia tak pernah merasa senang seperti saat pertama bertemu Gian. Semuanya terasa berbeda setelah Sita memiliki Gian, tak ada yang spesial seperti saat pendekatan. Biasa saja. Akhirnya Ia mengungkapkan apa yang beberapa hari ini Ia rasakan. Ia mulai menyadarinya, bahwa rasa sayang dan cinta itu tidak bisa tumbuh begitu saja dengan waktu singkatnya. Semuanya butuh proses. Sekalipun rasa itu ada, itu hanya sebatas suka dan sifatnya sementara saja. Seperti yang kini Sita rasakan.
Gian kecewa. Ia tak menyangka semuanya akan terjadi. Gian segera pergi meninggalkan Sita dibawah pohon itu tanpa pikir panjang lagi.

Tahukah kau? Seseorang yang telah merubah hidupmu. Menjadi lebih baik, lebih berarti, lebih menyenangkan?
Seseorang yang memotivasimu disaat kau jatuh, dengan kata-katanya yang sedikit menjengkelkan.
Seseorang dengan canda dan tawanya. Dengan hal-hal bodoh yang Ia lakukan. Hanya untuk membangkitkan semangatmu dan mengisi hari-harimu agar tak sepi.
Itu aku. Seseorang yang hanya kau inginkan lebih dari sekedar teman, tetapi kau anggap aku hanya teman biasa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar