Cinta. Sebuah kata sederhana yang memiliki banyak arti.
Entah itu menyenangkan, indah, menyesakkan, bahkan menyakitkan.
Hidupku lebih berwarna, saat kulihat senyummu. Hidupku
terasa berarti, karena kau selalu ada untukku, untuk memotivasiku meskipun
dengan kata-kata sederhana dan sinis sekalipun. Candamu, tawamu, mengisi setiap
hari-hariku yang sepi.....
Pagi ini
sungguh cerah, secerah hati Sita. Cewek lugu, cuek, jutek dan agak pemalas itu.
Hari ini nggak seperti biasanya, Sita sangat antusias untuk sekolah. Biasanya
sih males-malesan dan sengaja dilama-lamain biar telat. Males upacara. Yap,
salah satu yang menyebabkan hari senin begitu dibencinya oleh berjuta-juta umat
manusia. Apalagi dengan macetnya. Kayaknya semua orang di kota Bandung ini
memiliki 1 pemikiran yang sama. Sampe-sampe mau berangkat ngantor, sekolah,
keluar rumah pun samaan. Bikin jalanan padet aja kan.
Sita lari
terburu-buru, keluar dari kamarnya dan langsung kelabakan nyari kunci motor.
“Ma, aku
pergi sekarang ya. Takut macet nih, ntar kesiangan.”
“Hey,
sarapan dulu! Biasanya juga kamu berangkat setengah 7 dari rumah sengaja telat.
Kok tumben pingin nggak telat?”
“Nanti aja
dikantin ya Ma. Apa jadinya dunia ini kalau generasi muda kayak Sita ke sekolah
aja telat mulu.”
“Yasudah
deh, hati-hati ya.” Jawab Mama Sita sambil geleng-geleng melihat keanehan
tingkah anaknya sendiri.
“Oke Ma.”
Sita segera berangkat.
Dijalan,
Sita senyam-senyum sendiri sambil nyetir. Entah apa yang telah merasuki
pikirannya. Tidak biasanya.
...............................................................................................................
Sesampainya
disekolah, dia celingukan mencari teman-temannya. Maksudnya sih modus, liat gebetannya. Makhluk terkece
disekolahnya yang sudah merasuki pikirannya belakangan ini. Bagaimana tidak,
ketampanannya serta kewibawaannya membuat dia sungguh sungguh terpesona. Cinta
pada pandangan ke.........
Pagi ini
sia-sia. Dia sengaja datang pagi-pagi ke sekolah hanya untuk melihat sosok
lelaki tampan yang Ia idam-idamkan semenjak 2 hari yang lalu. Tetapi
kenyataannya, sepasang mata yang pernah bertemu disebuah kantin lusuh itu tak
Ia temukan di pagi ini.
Sedih.
Memang. Ia sudah menyia-nyiakan 30menit untuk tidur lagi setelah terbangun dari
mimpi indahnya. Ya, tentu saja lelaki itu. Ia memikirkannya tanpa henti.
Membayangkannya. Dan terbawa ke mimpi.
Bel pun
berbunyi. Sita tak mau beranjak dari kursi reot di kantin itu.
“Sit, nggak
baris? Buruan, ntar dikira telat lagi.” Sapa Irman.
“Kalem, gue
lagi..............”
“Ngapain?
Pagi-pagi udah modus aja lo. Haha. Yuk buruan.”
“Iye iye.”
Jawab Sita dengan agak kesal.
Bagaimana
dia tidak mau beranjak dari kantin itu. Kelas seseorang yang Ia idam-idamkan
jelas jelas ada didepan kantin itu.
Upacara pun
dimulai. Semua peserta mengikutinya dengan khidmat sehingga hening dan sepi
yang terasa. (Lo pasti lebih tau kenyataannya kayak gimana).
Upacara pun
selesai. Sita masih penasaran dengan sosok itu. Lelaki tampan dan keren sekali
(menurutnya). Ia tak menemukannya pagi itu.
Sita pun
segera ke kelasnya dengan perasaan tak karuan, lunglai dan seketika letih.
(Suer, ini lebay banget).
“Sit, lo
kenapa? Sakit?” Tanya Wia teman sebangkunya.
“Nggak kok,
galau aja.” Jawab Sita lempeng.
“Galau? Lo
kan......”
“Jomblo? Iye
gue jomblo mau apa lo?” Sita memotong pembicaraan karena perasaannya udah mulai
gak enak.
“Sorry, gue
gak bermaksud bilang itu kok. Hehe. Kenapa? Cerita dong!” Wia ngeles.
“Usaha gue
sia-sia Wi, gue bela-belain nih dateng pagi-pagi biar bisa liat wajah tampan
gebetan gue. Kalau pagi pasti kan masih fresh gitu. Tapi gue gak ketemu. Sedih
deh gue.” Sita menunduk.
“Yaelah gitu
doang. Emang siapa sih? Sampe segitunya lo?” wia penasaran.
“Ada deh”
Jawab Sita dengan lemas.
“Yah lo mah
gitu...” Wia kecewa.
Bel
istirahat pun berbunyi. Wajah Sita yang tampak lesu kini berbinar. Ia buru-buru
mengajak Wia ke kantin untuk mengisi perutnya yang masih kosong akibat belum
sarapan. Mmmmm.... sebenernya sih ketemu gebetan doang juga bisa bikin kenyang
bagi Sita.
Ia
celingukan. Tiba-tiba sesosok pangeran datang. Tampan. Memang. Tatapannya tajam
tertuju kepada seorang penjual mie ayam. “Mas, mie ayam 1 ya. Kayak biasa,
jangan pake ayam.” Kata cowok itu dengan gaya bicaranya yang begitu menyejukkan
hati.
Mata Sita
terbelalak. “Wi, beli mie ayam yuk! Gue laper nih.” Sita kegirangan.
“Lo kenapa?
Lupa ya? Lo kan nggak suka mie ayam Sit.” Jawab Wia dengan entengnya.
“Udah, ayo!”
Sita nggak sabaran.
Sita segera
duduk di sebuah meja mas mas mie ayam itu. “Wi, lo gue traktir mie ayam deh.
Mas 1 ya! Lama-lamain aja mas, kita penyabar kok.” Sita menyambar.
“Sit, lo
kenapa? Lagi dapet rezeki ya? Wah tengkyu yaa. Tapi kok dilama-lamain sih?” Wia
kebingungan. “Udah Lo diem aja deh. Bantuin gue kali ini ya.” Jawab sita dengan
muka sok serius.
Wia diem
aja. Nurutin apa kata Sita. Dia gak ngerti, makhluk apa yang merasukinya
sampe-sampe temannya itu aneh banget.
Sita senyam
senyum sendiri. Merhatiin gebetannya itu yang ternyata emang lagi beli mie ayam
juga.
Seketika
pikiran Sita melayang. Ia sungguh sungguh gila kali ini.
“Mas, lama
banget sih!” Wia kesal.
“Loh, neng
kan sabaran katanya. Yasudah saya layanin yang lain dulu biar cepet neng.”
Wia kembali
terdiam. Tiba-tiba teman sebangkunya itu pergi begitu saja. Ia mengikuti
gebetannya. Kali ini urat malu Sita bener-bener putus.
“Eh,
tunggu!” Sita menyapa.
“Eh ya,
siapa ya? Ada apa?” Jawab lelaki itu dengan ramah dan agak kebingungan.
Sita
memperhatikan plat nama lelaki itu. “Oh, Gian.” Jawabnya dalam hati. Sita
cekikikan sendiri.
“Ngga kok,
gue kira temen sekelas gue hehe.” Sita ngeles.
“Oh yaudah.
Gue duluan ya.” Jawabnya dengan sopan.
“Yaampun........”
Sita kegirangan.
“Wi, yuk
kita ke kelas. Takut keburu bel nih. Sayang banget ketinggalan pelajaran 5
menit juga!” Sita salting.
“Lo
kenapasih? Tadi mau nraktir. Ini mienya baru juga muncul dihadapan gue!”
“Yaudah gue
duluan ya!” jawabnya dengan enteng.
“Sitaaaa!!!”
Wia benar-benar kesal.
Semenjak
hari itu, hidup Sita berubah. Saat Ia kenal Gian. Ia berubah menjadi lebih
rajin, giat dan aktif di organisasi sekolah. Tak biasanya.
Sita sudah
tidak pernah terlambat sekolah lagi. Nilainya pun naik. Apalagi semester 1 ini
dia ranking 10 besar. Akibat usahanya mati-matian buat eksis di mading sekolah
doang. Semua karena Gian. Gian pun anak yang cukup cerdas. Dan disekolah ini
anak yang ranking atau berprestasi namanya selalu dicantumkan di mading.
Dia hanya
ingin jadi sesuatu yang Gian lihat. Meskipun mungkin Gian tak melihatnya.
Dia hanya
ingin menjadi yang paling terbaik dari yang terbaik. Meskipun Gian tak
memperdulikannya sekalipun. Gian benar-benar membuat hidupnya berubah. Tanpa
Gian tahu apa sebabnya.
Sita begitu
menginginkan Gian. Tak disangka, hanya dengan beberapa minggu pedekate akhirnya mereka pun jadian.
Gian
mengungkapkan perasaannya. Hanya dengan dekat beberapa minggu saja, Sita
membuatnya sungguh tertarik. Hari demi hari berlalu. Sita mulai menyadari,
bahwa perasaannya pada Gian itu hanya sebatas ‘suka’ saja. Suka pada pandangan
pertama, pada fisiknya yang hanya membuat perasaannya tak karuan karena memikirkannya
tanpa henti. Tanpa memikirkan apakah ada rasa sayang atau cinta. Ia hanya
memikirkan untuk mendapatkannya saja. Lama-lama Sita pun merasa bosan. Ia tak
pernah merasa senang seperti saat pertama bertemu Gian. Semuanya terasa berbeda
setelah Sita memiliki Gian, tak ada yang spesial seperti saat pendekatan. Biasa
saja. Akhirnya Ia mengungkapkan apa yang beberapa hari ini Ia rasakan. Ia mulai
menyadarinya, bahwa rasa sayang dan cinta itu tidak bisa tumbuh begitu saja
dengan waktu singkatnya. Semuanya butuh proses. Sekalipun rasa itu ada, itu
hanya sebatas suka dan sifatnya sementara saja. Seperti yang kini Sita rasakan.
Gian kecewa.
Ia tak menyangka semuanya akan terjadi. Gian segera pergi meninggalkan Sita
dibawah pohon itu tanpa pikir panjang lagi.
Tahukah kau?
Seseorang yang telah merubah hidupmu. Menjadi lebih baik, lebih berarti, lebih
menyenangkan?
Seseorang
yang memotivasimu disaat kau jatuh, dengan kata-katanya yang sedikit
menjengkelkan.
Seseorang dengan
canda dan tawanya. Dengan hal-hal bodoh yang Ia lakukan. Hanya untuk
membangkitkan semangatmu dan mengisi hari-harimu agar tak sepi.
Itu aku.
Seseorang yang hanya kau inginkan lebih dari sekedar teman, tetapi kau anggap
aku hanya teman biasa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar